DKI Jakarta
Sidang Terbuka Ujian Program Doktor PAI, Universitas Islam Jakarta, Heru Budi Santoso Raih Gelar Doktor Dengan Predikat Cumlaude
Sidang Terbuka Ujian Program Doktor PAI, Universitas Islam Jakarta, Heru Budi Santoso Raih Gelar Doktor Dengan Predikat Cumlaude
Bertempat Aula Bab Al-Rusydi, Kampus Universitas Islam Jakarta, pada Selasa 12 Mei 2026, Universitas Islam Jakarta (UID) kembali menggelar Ujian Sidang Terbuka Guna memperolah Gelar Doktor Pendidikan Agama Islam pada Program Doktor Pascasarjana (S3) Universitas Islam Jakarta, dan Mahasiswa S3 yang di uji pada Sidang terbuka adalah Promovendus Heru Budi Santoso.

Sementara Dewan penguji diantaranya Ketua Penguji Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si. (Rektor Universitas Islam Jakarta), Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. (Ka. Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta), Prof. Dr. Marhamah, M.Pd (Dosen Tetap PPs Universitas Islam Jakarta), Prof. Dr. Bedjo Suyanto, M.Pd (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta), Dr. Popi Puadah (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta) serta Penguji Eksternal Prof. Dr. Hesti Sudyadi, SE., M.Si. (Dosen tetap SekolahTinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya). Dan diakhir ujian usai dewan penguji bersidang, memutuskan Promovendus Heru Budi Santoso dinyatakan Lulus dengan predikat Cumlaude dan menjadi lulusan program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Jakarta yang ke 84.

Usai menguji dan menyematkan Gelar Doktor kepada Dr. Budi Santoso, S.Pd, M.Pd, Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si mengungkapkan, bahwa Dr Heru Budi Santoso merupakan Lulusan Program Doktor (S3) UID yang ke 84, dan berhasil lulus dengan predikat Cumlaude atas karya penelitian yang berbeda dengan pada umumnya, Desertasinya sangat unik karena memadukan data Mahasiswa Universitas Islam Jakarta dengan Budha Institut Nalanda dalam satu Model kepemimpinan karismatik.
Dan penelitan ini membuktikan penggunaan teknologi memiliki dampak positif yang universal, terlepas dari latar belakang agama. (Pendekatan Lintas Agama (Multikultural) Disertasi ini tidak hanya berhenti sebagai dokumen akademis, tetapi menghasilkan dataset primer orisinal pertama di Indonesia, terkait modelini Data Int siap digunakan oleh pembuat kebijakan, seperti Kementerian Agama dan Kemendikbudristek untuk merumuskan standar kompetensi dosen di perguruan tinggi keagamaan.( Fondasi Kebijakan Nasional (Evidence-Based Policy).

Disertasi ini menggunakan metodologi Disjoint Two-Stage PLS-SEM dan analisis IPMA (mportance-Performance Map Analysis) yang canggih untuk memberikan rekomendasi prioritas yang tepat sasaran.( Penggunaan Analisis Mutakhir), Relevansi dengan Tantangan Era Digital. Bagian ini berfungsi sebagai “pancingan” (hook) yang menunjukkan bahwa disertasi ini memberikan solusi atas masalah nyata yang dihadapi dunia pendidikan saat ini serta menjawab tantangan Generasi Z dan Alpha, Disertasi ini sangat relevan untuk menghadapi mahasiswa generasi baru yang sangat lekat dengan dunia digital sejak dini, yang menuntut pembelajaran yang lebih mendalam dan interaktif. Hingga mengatasi “Kematian Interaksi” di Kelas Daring, dimana Pembelajaran daring sering membuat mahasiswa merasa terisolasi dan kurang termotivasi akibat kurang sentuhan personal. Disertasi ini menawarkan solusi kongkret melalui perpaduan karisma dosen dan pemanfaatan teknologi untuk menghidupkan kembali ke virtual.
Temuan Kunci disertasi ini juga mengubah Paradigma (Key Findings) Sajikan penelitian dengan bahasa yang lugas dan berdampak Karismatik , Dosen Bukan Sekadar Gaya, Tapi Kunci Keterlibatan inspiratif, bervisi, dan peka (karismatik) terbukti secara positif dan signifikan menjadi pendorong terkuat, agar mahasiswa mau terlibat aktif di kelas. Dan Teknotogi Berdampak Langsung pada Nilai/Kinerja Penggunaan teknotogi bagi dosen baik untuk penyampaian materi maupun pengayaan, ungkap Prof Raihan.

Sementara Prof. Dr. Dede Rosyada, MA (Kepala Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta) menegaskan bahwa dalam penelitian Dr Heru Budi Santoso ini penemuannya sangat arif, karena ternyata generasi Z yang sekarang kuliah di perguruan tinggi seperti mahasiswa Universitas Islam Jakarta maupun Institut Nalanda mereka melihat bahwa dosen itu yang penting punya inspirasi, visi dan sensitivitas akan kebutuhan-kebutuhan mahasiswa, bukan karismanya, meskipun karisma itu penting untuk menginspirasi tersebut, dan teknologi juga penting namun sebagai learning resource atau sumber belajar, daripada learning tools atau alat bantu pembelajaran yang dipakai oleh dosen, ungkapnya.
Usai menerima gelar Doktor, Dr Heru Budi Santoso mengaku bersyukur hari ini bisa menyelesaikan tugas akademik dan berhasil meraih gelar Doktor, dari Universitas Islam Jakarta, dimana dirinya melakukan penelitian tersebut dilatarbelakangi dengan perkuliahan Daring yang dilakukan karena bangsa ini harus menghadapi situasi Pandemi Covid di tahun 2019 lalu, dan apakah disaat ini yang telah melewati masa pandemi tersebut harus kembali ke luring atau tatap muka, apa tetap dengan model daring.
Dan ternyata pola pembelajaran daring hingga hari ini masih digunakan meski dengan ke duanya, yaitu dengan Blended learning atau dengan model pembelajaran yang mengombinasikan tatap muka (luring) dengan pembelajaran berbasis teknologi (daring) guna menciptakan pola belajar mengajar yang fleksibel, interaktif, dan efektif. Untuk itu dari hasil penelitian ini tujuannya memberikan solusi membantu pelaksanaan proses pembelajaran Blended learning tersebut. Bagaimana Dosen Karismatik menyampaikan pembelajaran dengan proses teknologi yang digunakan sangat menentukan keberhasilan mahasiswa.
Dan ini mungkin yang pertama dilakukan dari penelitian kinerja dosen karismatik dan keterlibatan dosen menggunakan daring dan berbasis teknologi dengan pendekatan pendidikan yang memanfaatkan internet, perangkat digital (komputer/tablet), dan perangkat lunak untuk memfasilitasi pembelajaran jarak jauh.
Semoga dari penelitian ini akan memberikan masukan kepada pemerintah dalam mengambil kebijakan, baik itu Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) maupun Kementerian Agama, harapnya.