Connect with us

Ekonomi

Angkringan, Kulineran Ndeso yang Harus Tetap Tegak di Tengah Pandemi Covid-19

Angkringan anak SMAN 30 Jakarta angkatan 1993

Uniting Indonesia.com, Jakarta – Sego kucing atau nasi kucing. Diikat dengan karet gelang beda warna.Sebab isinya ada tiga macam. Yakni orek tempe, teri dan irisan tongkol.

Di gerobak itu tak hanya nasi kucing. Ada aneka tusukan. Kikil, telor puyuh, kulit ayam, kepala ayam, ceker ayam, ati ampela dan lain-lain.

Juga ada beberapa teko di atas gerobak itu. Selalu terpanggang agar airnya selalu panas. Itu buat pembeli untuk minum, terserah mau air tawar, teh tawar atau teh manis, wedang jahe, kopi dan susu.

Gerobak penuh aneka tusukan sate dan hidangan beragam minuman, dengan tiga bangku kayu sesuai ukuran panjang gerobak itu, dari zaman dulu hingga sekarang, orang menyebutnya Angkringan. Berangkat dari usaha yang menyajikan makanan yang terjangkau oleh lapisan masyarakat

Angkringan melegenda. Ada di mana-mana. Di Bali, Pulau Sulawesi, Kalimantan, Sumatera. Apalagi Pulau Jawa, gampang sekali ditemukan. Termasuk di Ibukota Jakarta. Angkringan tak sulit untuk ditemukan.

Kembali menjalani hidup baru di tengah masyarakat, dan mendapat pekerjaan adalah kebingungan yang luar biasa setelah sekian lama berada di dalam penjara.

Itu hanya secuil cerita yang muncul dari mulut pembeli yang sedang menikmati sate dan nasi kucing di Angkringan. Kepada temannya yang juga sedang asik nyantap sate kikil, dia berkisah tentang seorang napi perempuan yang dengan kemauan yang kuat, jeli, dapat mengambil peluang, menjadikan dirinya bisa menjalani lembaran baru hidupnya. Maklum pandangan terhadap mantan napi kadang menjadi beban tersendiri baginya saat mencari pekerjaan.
Si mantan napi perempuan itu akhirnya menjadi sukses berkat usaha Angkringan.

Angkringan selain merupakan usaha mikro, juga menjadi tempat tongkrongan untuk bertukar kisah, sambil makan mereka saling sharing, saling kasih masukan masukan positif.

Di pinggiran Kali Jalan Penerbangan Sipil, Pramuka Sari I, Rawasari. Atau sederetan dengan SMPN 118, atau di belakang persis Green Pramuka Square, anak SMAN 30 Jakarta angkatan 1993, punya Angkringan.Kulineran Ndeso yang popuper hingga kini. Yuk punya Angkringan, modalnya pun tak sampai gadai sertifikat rumah. Angkringan salah satu UMKM, usaha ekonomi produktif yang dimiliki perorangan.

Terakhir, Pemerintah sekarang ini terus berupaya membantu para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar bisa tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Aamiin. (Dadan Hardian)

2 Comments

2 Comments

  1. ENNY RAIS

    September 16, 2020 at 1:44 pm

    Kereeen, sukses terus utk angkringan nya, bisa jd basecamp alumni SMA 30, khususnya teman2 BKR ,lokasinya strategis,

    Thanks Bro Dadan utk postingan nya , menginspirasi utk buka angkringan juga jdnya.

    • Tim Redaksi

      October 8, 2020 at 7:11 pm

      Semangat dan sukses sekaku juga ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ekonomi