Connect with us

Nasional

Pertempuran Surabaya 75 Tahun yang Lalu Cikal Bakal Hari Pahlawan

Pemuda Surabaya di Pertempuran 10 November 1945

UnitingIndonesia.com, Jakarta –
Pasca Kemerdekan Indonesia, para pemuda Surabaya berjuang melawan Sekutu.

Berdasarkan laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Surabaya memang menjadi kota terjadinya pertempuran terbesar pada masa setelah kemerdekaan.

Pada waktu itu, Jepang kalah Perang Dunia II kepada Sekutu (Inggris dan Belanda). Kekuasaan Jepang di Indonesia, lepas.

27 Oktober 1945, tentara Sekutu menyerbu penjara untuk membebaskan para perwira mereka yang ditahan Indonesia.

Sekutu juga menduduki tempat-tempat vital di kota itu, seperti lapangan terbang, kantor pos, radio Surabaya, gedung Internatio, pusat kereta api, dan pusat otomobil dengan maksud menduduki Surabaya.

Masyarakat Surabaya, khususnya para pemuda, pun dibuat geram. Mereka diultimatum Sekutu jika tidak mematuhi perintah Inggris maka akan mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.

Ultimatum ini dianggap menghina  bangsa Indonesia yang sudah merdeka.Pemerintah mengeluarkan perintah perang.

28 Oktober 1945, bangsa Indonesia menyerang kamp Belanda dan Sekutu.

Di hari yang sama, pada malam harinya melalui siaran radio, disebarkan semangat kepada semua lapisan masyarakat agar bersatu dan merebut kembali tempat-tempat penting yang diduduki Sekutu.Bung Tomo, seorang tokoh yang memiliki gaya bicara berapi-api.

Pemimpin Nahdlatul Ulama dan Masyumi pun mendukung dan menyatakan perang mempertahankan Tanah Air sebagai perang Sabil.

29 Oktober 1945, Indonesia berhasil menguasai kembali obyek-obyek vital yang sebelumnya diduduki Sekutu

Sekutu minta penghentian kontak senjata. Namun kenyataannya, Sekutu  melakukan penyerangan di kampung penduduk.

Pertikaian hebat pun terjadi, di sana Jenderal Mallaby terbunuh. Inggris mengecam keras peristiwa itu.Mereka meminta masyarakat Surabaya menyerah.

8 November, Sekutu mengeluarkan ultimatum, berisi perintah kepada orang-orang Indonesia untuk meletakkan bendera Merah Putih di atas tanah dan para pemuda harus menghadap kepada Sekutu dengan angkat tangan atau menyerahkan diri.

Pemuda juga harus bersedia menandatangani surat yang menyatakan menyerah tanpa syarat.
Sementara semua perempuan dan anak-anak harus meninggalkan Surabaya sebelum pukul 19.00 WIB.

Bagi pribumi yang masih nekat membawa senjata setelah pukul 06.00 WIB di tanggal 10 November 1945 diancam akan dijatuhi hukuman mati.

Dianggap ultimatum itu menghina martabat dan harga diri bangsa yang sudah merdeka,Pemuda Surabaya  menolak ultimatum itu, pada malam 9 Nopember pukul 23.00 WIB melalui siaran radio.

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, tak terelakkan.Hanya bermodalkan bambu runcing dan belati dalam menyerang tank-tank baja milik Sekutu.

Dalam pertempuran ini, 6.000 nyawa rakyat Surabaya gugur, dan sisanya diungsikan ke tempat yang dinilai aman.

Pemuda Surabaya berhasil mempertahankan kota mereka. Karena sejarah itu, Surabaya dijuluki Kota Pahlawan.Di kota itu, didirikan sebuah tugu dengan tinggi lebih dari 41 meter, yang diberi nama Tugu Pahlawan.

10 November 1945 hingga tahun 2020, telah 75 tahun, diperingati sebagai Hari Pahlawan.Penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional didasari Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur.

(Dadan Hardian)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Nasional